Sumpah Palapa
Sumpah Palapa atau yang disebut dengan Amukti Palapa, merupakan sumpah yang diikrarkan oleh seorang mahapatih Kerajaan Majapahit pada masa Raja Hayam Wuruk, yaitu Gajah Mada.
Mengutip buku Sejarah 2 oleh Penerbit Yudhistira Ghalia Indonesia, Sumpah Palapa diikrarkan oleh Gajah Mada ketika ia dilantik sebagai Patih kerajaan Majapahit pada tahun 1331 M. Intisari sumpah tersebut adalah bahwa Gajah Mada bersumpah untuk tidak akan makan palapa (semacam jenis rempah-rempah yang manis), tidak juga bersenang-senang atau beristirahat sebelum seluruh Nusantara bersatu di bawah kekuasaan Majapahit.
Mengutip Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik Sampai Kontemporer oleh Adi Sudirman, upaya untuk memperluas kekuasaan Majapahit terus dilakukan. Upaya terakhirnya yaitu dengan upaya penyatuan, melalui perkawinan antara Raja Hayam Wuruk dengan putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari kerajaan Sunda.
Namun upaya tersebut gagal dan ditandai dengan tragedi Bubat. Tragedi tersebut yaitu peristiwa tewasnya rombongan pengantin Sunda akibat pengkhianatan oleh Gajah Mada sebagai Patih Majapahit dan pasukannya yang terjadi pada 1357 M di Bubat. Tragedi ini menewaskan Raja Sunda bersama putrinya, Dyah Pitaloka Citraresmi. Peristiwa ini disebutkan dalam naskah kuno seperti Kidung Sunda, Kidung Sundayana, Carita Parahyangan, dan Serat Keraton. Tragedi inilah yang menandai kegagalan Gajah Mada dalam memenuhi Sumpah Palapa yang diikrarkannya.
Isi Sumpah Palapa:
“ Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa". ”
Terjemahannya:
“ Kamu Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Kamu Gajah Mada, "Jika telah menundukkan seluruh Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa". ”